Langsung ke konten utama

Salamlah Pada Alam Semesta


Wahai cahaya kecil
Rindukah kau bertemu tuhan
Yang telah keberadaan Ayah dan Bundamu
Hingga kau mengenal dunia ini

Kala usiamu meraih masa pelangi
Sinar mentari terus menggoda pikiranmu
Kau akan bertanya tanda apakah itu
Dan kau akan memahami bila kau tak menghendaki

Wahai cercah cahayaku
Usia kita tidak akan seumur semesta ini
Bila tiba masamu mendekat fana
Maka junjunglah kerinduanmu pada-Nya
Biarlah tubuhmu dihempas oleh yang fana ini
Tapi jangan kau diamkan nuranimu berpaling dari-Nya
Hingga kau benar-benar akan menemukan cahaya seutuhnya

Wahai yang diberi cahaya
Bila kau pandai berbincang masalahmu
Biarlah masalahmu akan berlalu dengan putaran bumi ini
Tapi biarlah adamu menetapkan salam pada seluruh semesta
Dan kau akan tersenyum
Bahwa senyummu lebih berhidmat dibanding akalmu

Anakku,
Cahaya untukku,
Kau bertemu dengan masa dimana kau akan bersalam pada semesta
Biarlah nuranimu yang menyampaikannya
Bukan hanya bibirmu semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ladang-ladang

Ladang-ladang
Agamamu telah mengadilimu dengan 4 perkara Salah satunya adalah kau akan menjadi petani Lalu dari hasil kerjamu berbuah manis Cangkulmu adalah alatmu wahai kaum adam Bila kau tak bisa menggunakannya, biarlah ia berdzikir

Dengan sebaik-baik prasangka pada pemilik asma’ Cangkulmu adalah alat terbaik dalam hidupmu Dengan puncak kebesaranmu untuk meraih tuhanmu Biarlah ladang-ladang itu yang berdiam Kau hanya boleh memilih ladang yang paling tepat untukmu

Hakmu hanya dengan 4 ladang Kalau kau akan memilikinya secara bersama-sama Cangkullah…! Dengan sebaik-baik cangkulan Maka kau akan menikmati hasil tanaman itu.






Keyakinan Kita

Anakku,

Setiap malam kadangkala ayah ingin selalu mendongeng saat ayah akan mengantarmu tidur. Tapi usaha itu ayah urungkan karena kamu sudah terlelap setelah seharian bermain. Barangkali ada esok hari yang bisa ayah ceritakan ketika mengantarmu ke tempat tidur.

Anakku,

Ada sebuah cerita yang ingin ayah dongengkan sebelum kamu tidur, cerita ini sebenarnya sering ayah dengar dari orang secara turun-temurun. Barangkali ceritanya sangat sederhana tapi tujuan tidaklah sederhana yaitu untuk menyampaikan ajaran moral (mendidik) disamping untuk menghibur.



Dahulu pernah ada seorang ayah dan anaknya yang berjalan dengan menaiki keledainya.

Ketika diperjalanan orang-orang heran melihatnya bahkan merasa miris karena mereka melihat betapa kasihan si keledai yang dibebani oleh dua manusia dan barang-barang.

Mendengar celetukan orang-orang itu, si ayah berkata kepada anaknya, "nak, sebaiknya kamu saja yang naik. Keledai ini tidak akan kuat sampai ke tujuan kalau terlalu berat".

Akhirnya si ayah …

Kisah Tak Kunjung Usai

Cahaya adalah hembusan sinar yang mencorong seluruh penjuru sudut ruang. Dan setiap kegelapan akan dilaluinya sehingga lenyaplah kegelapan itu. Bila ada kegelapan yang terlampaui maka cahaya itu telah dihentikan jalannya, dan berhenti tanpa setitik pun yang menyelimutinya.
Cahaya matahari selalu muncul ketika tiba esok hari di waktu pagi. Dan setiap penjuru ruang akan terkena sinarnya sehingga tidak ada tempat yang gelap. Disamping itu cahaya matahari menunjukkan hal yang tak nampak. Semua semesta telah terlihat di mata ketika cahaya itu memberi penerangan. Ketika muncul matahari dengan sinarnya, jalan-jalan, pepohonan, binatang dan lainnya telah nampak sekali dalam pandangan mata. Tetapi semua itu adalah semu. Kenapa semu? karena cahayanya tidaklah abadi. Ia akan berhenti ketika malam tiba dan digantikan oleh rembulan, sehingga semua yang nampak karena cahaya itu, kini tidaklah terlihat lagi. Kegelapan telah menyelimutinya, sekalipun masih ada cahaya rembulan, tetap saja tak mampu men…