Langsung ke konten utama

Harumkan Namamu, Nak!


Anakku,
Ayah pernah mengajakmu ke sebuah taman, disana kita bisa melihat berbagai bunga yang tertata dengan rapi dan mengeluarkan bau yang sangat harum. Entah siapa yang menanamnya sehingga bunga-bunga itu nampak sedap dipandang. Kadang ketika kita memandangnya, rasanya semua beban pikiran kita sirna begitu saja.

Ayah sangat mendambakan bunga itu bisa kita tanam di rumah kita. Dan satu saat kamu akan mendapatkan kebaikan dari bunga itu.

Anakku,
Bunga itu tanaman yang sangat disukai oleh banyak orang. Dan hampir setiap orang yang mengahmpirinya akan dibuat terkesima dengannya. Tentu saja beragam sesuatu yang dihasilkan dari bunga sehingga ia mudah dilirik orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ladang-ladang

Ladang-ladang
Agamamu telah mengadilimu dengan 4 perkara Salah satunya adalah kau akan menjadi petani Lalu dari hasil kerjamu berbuah manis Cangkulmu adalah alatmu wahai kaum adam Bila kau tak bisa menggunakannya, biarlah ia berdzikir

Dengan sebaik-baik prasangka pada pemilik asma’ Cangkulmu adalah alat terbaik dalam hidupmu Dengan puncak kebesaranmu untuk meraih tuhanmu Biarlah ladang-ladang itu yang berdiam Kau hanya boleh memilih ladang yang paling tepat untukmu

Hakmu hanya dengan 4 ladang Kalau kau akan memilikinya secara bersama-sama Cangkullah…! Dengan sebaik-baik cangkulan Maka kau akan menikmati hasil tanaman itu.






Keyakinan Kita

Anakku,

Setiap malam kadangkala ayah ingin selalu mendongeng saat ayah akan mengantarmu tidur. Tapi usaha itu ayah urungkan karena kamu sudah terlelap setelah seharian bermain. Barangkali ada esok hari yang bisa ayah ceritakan ketika mengantarmu ke tempat tidur.

Anakku,

Ada sebuah cerita yang ingin ayah dongengkan sebelum kamu tidur, cerita ini sebenarnya sering ayah dengar dari orang secara turun-temurun. Barangkali ceritanya sangat sederhana tapi tujuan tidaklah sederhana yaitu untuk menyampaikan ajaran moral (mendidik) disamping untuk menghibur.



Dahulu pernah ada seorang ayah dan anaknya yang berjalan dengan menaiki keledainya.

Ketika diperjalanan orang-orang heran melihatnya bahkan merasa miris karena mereka melihat betapa kasihan si keledai yang dibebani oleh dua manusia dan barang-barang.

Mendengar celetukan orang-orang itu, si ayah berkata kepada anaknya, "nak, sebaiknya kamu saja yang naik. Keledai ini tidak akan kuat sampai ke tujuan kalau terlalu berat".

Akhirnya si ayah …

Kisah Tak Kunjung Usai

Cahaya adalah hembusan sinar yang mencorong seluruh penjuru sudut ruang. Dan setiap kegelapan akan dilaluinya sehingga lenyaplah kegelapan itu. Bila ada kegelapan yang terlampaui maka cahaya itu telah dihentikan jalannya, dan berhenti tanpa setitik pun yang menyelimutinya.
Cahaya matahari selalu muncul ketika tiba esok hari di waktu pagi. Dan setiap penjuru ruang akan terkena sinarnya sehingga tidak ada tempat yang gelap. Disamping itu cahaya matahari menunjukkan hal yang tak nampak. Semua semesta telah terlihat di mata ketika cahaya itu memberi penerangan. Ketika muncul matahari dengan sinarnya, jalan-jalan, pepohonan, binatang dan lainnya telah nampak sekali dalam pandangan mata. Tetapi semua itu adalah semu. Kenapa semu? karena cahayanya tidaklah abadi. Ia akan berhenti ketika malam tiba dan digantikan oleh rembulan, sehingga semua yang nampak karena cahaya itu, kini tidaklah terlihat lagi. Kegelapan telah menyelimutinya, sekalipun masih ada cahaya rembulan, tetap saja tak mampu men…